Wednesday , 18 October 2017
Home » Activities » Penyadaran Gender, Kesehatan, dan Lingkungan: Studi Kasus di Kawasan Halimun

Penyadaran Gender, Kesehatan, dan Lingkungan: Studi Kasus di Kawasan Halimun

Pada tahun 2007, sebuah studi kasus lapang diusung melalui program G-Help* sebagai proses pembelajaran masalah gender, kesehatan dan lingkungan bagi 14 Mitra Kerja Ford Foundation yang berasal dari 7 propinsi. Studi berlangsung selama 18 bulan dan dilaksanakan di kawasan lindung ekosistem Pegunungan Halimun yang terletak di perbatasan tiga kabupaten (Sukabumi, Lebak, dan Bogor), tepatnya di Kampung Nyungcung Desa Malasari Kecamatan Nanggung Kabupaten Bogor dan Kampung Babakan Ciomas Desa Citorek Kidul Kecamatan Cibeber Kabupaten Lebak. Studi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan pimpinan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bidang kesehatan dan lingkungan dalam memahami dan memecahkan keterkaitan masalah gender, kesehatan, dan lingkungan. Secara khusus, studi ini mengembangkan program intervensi strategik yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masyarakat; serta melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi program intervensi.

Terdapat tiga kegiatan utama pada studi kasus ini. Pertama, lokakarya persiapan studi Halimun selama 5 hari. Pada tahap ini, dilakukan penyamaan persepsi studi, pengamatan lapangan untuk identifikasi masalah, dan pengembangan program intervensi. Dari tahap diskusi ini, diperoleh kesepakatan antara pihak perwakilan LSM dan perwakilan masyarakat tentang prioritas masalah intervensi yaitu sanitasi lingkungan pemukiman di Kampung Nyungcung dan akses air bersih di di Kampung Babakan Ciomas. Kedua kampung mewakili karakteristik masyarakat tempatan, yaitu masyarakat yang dalam kehidupan bergantung kepada sumber daya alam, tetapi berbeda dalam hal paparan pembinaan yang dilakukan RMI-the Indonesian Institute for Forest and Environment. Masyarakat Kampung Nyungcung telah dibina selama beberapa tahun, sedangkan Kampung Babakan Ciomas belum pernah dibina. Perbedaan ini dianggap menarik untuk diteliti sehubungan dengan kemungkinan perbedaan respon masyarakat terhadap binaan atau supervisi yang akan dilakukan di Studi Halimun ini.

Kedua, implementasi program yang diri dari 2 aksi, yaitu aksi kecil dan aksi besar masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatan dan lingkungan di wilayahnya.  Aksi kecil berupa sekolah lapang atau dengan istilah lokah dikenal dengan ‘Riung Mugpulung’ yang dilaksanakan secara rutin sebanyak 8 kali. Narasumber aksi kecil adalah para mitra lokal dari 14 LSM yang datang bergantian. Aksi besar adalah kegiatan yang dilakukan melibatkan seluruh komponen dan warga masyarakat di kampung tersebut. Untuk aksi besar, masyarakat Kampung Nyungcung menyepakati pembuatan sarana Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) dan Mandi Cuci Kaskus (MCK) sebagai cara mengatasi masalah sanitasi di lingkungan. Sedangkan di Kampung Babakan Ciomas, masyarakat menyepakati pembangunan sarana sistem akses air bersih.

Sebelum penyelenggaraan aksi besar, masyarakat dipersiapkan terlebih dahulu melalui serangkaian kegiatan aksi kecil. Kampung Nyungcung membutuhkan waktu empat bulan untuk mewujudkan SPAL dan MCK. Sedangkan Kampung Babakan Ciomas, memerlukan waktu yang lebih lama karena program intervensinya memerlukan dana yang besar (sekitar Rp.102juta, sehingga tim UI mengundang pihak perusahaan swasta (PT. Wavin) untuk terlibat kegiatan ini. Akhirnya dengan penuh perjuangan, berhasil mewujudkan mimpi memiliki jalur perpipaan air bersih sepanjang 2 kilometer yang diturunkan dari sumber mata air gunung halimun untuk sampai ke kampungnya dalam rentang waktu delapan bulan dari  program Riung Mungpulung dicanangkan. Keterlibatan penuh masyarakat yang didukung berbagai pihak menjadi kunci keberhasilan program ini. Model sistem aliran perpipaan di kampung Nyuncung menjadi model bagi pengembangan sistem air bersih di beberapa kecamatan di Kabupatan Lebak, karena air bersih yang dialirkan langsung masuk ke rumah-rumah warga dengan memanfaatkan sistem gravitasi bumi.

Ketiga, monitoring kegiatan selama pelaksanaan dan evaluasi pencapaian menjelang akhir kegiatan. Proses monitoring dan evaluasi dilakukan berkala dan berkesinambungan melalui instrument yang disesuaikan dengan jenis kegiatan. Informasi dari monitoring dan evaluasi digunakan sebagai bahan diskusi untuk memantau dan melanjutkan kegiatan baik pada lingkungan internal G-Help maupun dengan masyarakat.

Banyak nilai-nilai pembelajaran yang dapat dipetik dari Studi Halimun, diantaranya:

  1. Keterlibatan dan komitmen masyarakat sangat tinggi karena dari ide awal sampai pengembangan serta intervensi program melibatkan masyarakat yang memang membutuhkan program tersebut sehingga ini yang mendasari keberhasilan program.
  2. Masing-masing pihak bisa saling belajar, saling berbagi ilmu dan pengalaman antara pihak masyarakat, antar LSM, dan para akademisi di sepanjang kegiatan sehingga menjadi modal untuk memperkuat kapasitas masing-masing pihak.
  3. Kemitraan antara berbagai jejaring/network antar berbagai pihak menjadi kunci utama kekuatan program ini sehingga semua mimpi masyarakat dapat terwujud.
  4. Kendala dan hambatan yang ada merupakan proses ujian yang harus ditanggapi secara positip dan dijadikan peluang untuk melibatkan pihak-pihak lain yang relevan agar diperoleh jalan keluar yang terbaik.

 

G-help (Gender Health Environment Linkages Program) yang dimulai sejak Juni 2006 merupakan suatu wahana kolaborasi tukar pikiran dan pengalaman antar organisas-organisasi yang peduli dengan masalah gender, kesehatan, dan lingkungan. Program ini dikoordinasi oleh Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia dan mendapat bantuan dana darri Ford Foundation. Program ini juga melibatkan 7 LSM yang bergerak dibidang seksualitas dan kesehatan reproduksi dan 7 LSM lain yang bergerak dibidang lingkungan dan pembangunan masyarakat.

                        

 

About Admin CHR UI

Check Also

Dampak HIV terhadap Keluarga di Indonesia tahun 2007

Kasus HIV terus berkembang dan sudah menyebar hampir di seluruh provinsi di Indonesia. Penyebaran HIV …