Monday , 18 December 2017
Home » Activities » Riset Operasional Advokasi Keluarga Berencana untuk Meningkatkan Metode Ragam Kontrasepsi di Provinsi Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat

Riset Operasional Advokasi Keluarga Berencana untuk Meningkatkan Metode Ragam Kontrasepsi di Provinsi Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat

Sebagai negara dengan penduduk terbanyak ke 5 di dunia, Indonesia menghadapi tantangan laju pertumbuhan penduduk. Indonesia menerapkan program Keluarga Berencana (KB) sebagai salah satu upaya dalam menyikapi tantangan ini. Namun berbagai tantangan masih ditemukan, diantaranya terkait keragaman penggunaan metode kontrasepsi. Menyikapi hal tersebut, Center for Communication Program of Johns Hopkins University (JHU-CCP) bekerja sama dengan Yayasan Cipta Cara Padu, Kementerian Kesehatan RI, dan BKKBN, serta Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia (PPK-UI) mengadakan kegiatan operational research yang diharapkan dapat mendemonstrasikan upaya di tingkat kabupaten dalam meningkatkan ketersediaan dan penggunaan pelayanan KB di daerah.

Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif dan kuantitatif pada tahun 2013 di Kabupaten Kediri, Tuban dan Lumajang (Provinsi Jawa Timur) serta Kabupaten Lombok Barat, Lombok Timur, dan Sumbawa (Provinsi Nusa Tenggara Barat). Sampel studi kuantitatif dikumpulkan dengan metode kluster. Secara total, studi ini mengumpulkan  informasi dari 13,162 perempuan menikah usia 15-49 tahun yang tinggal di  kabupaten terpilih. Hasil studi kualitatif telah dibahas sebelumnya pada artikel terpisah dan dapat diakses pada link ini.

Rata-rata perempuan menikah yang terlibat dalam studi ini berusia 33 tahun dan berprofesi sebagai ibu rumah tangga (61%). Mayoritas perempuan (89,5%) telah menamatkan minimal Sekolah Dasar (SD), namun masih ada perempuan yang melaporkan tidak pernah bersekolah (4,6%).

Terkait pengetahuan tentang KB,  suntik dan pil KB merupakan alat kontrasepsi yang paling banyak diketahui responden . Pengetahuan mengenai alat kontrasepsi yang tepat untuk membatasi kehamilan (limiting) lebih rendah dibanding pengetahuan terkait alat kontrasepsi untuk menjarangkan kehamilan (spacing). Pengetahuan durasi metode kontrasepsi juga masih rendah. Hanya kurang dari setengah perempuan di setiap lokasi studi (kecuali Kabupaten Kediri) yang mengetahui bahwa durasi IUD adalah 5 tahun atau lebih. Hal serupa juga terlihat pada durasi MOP. Kurang dari setengah perempuan di setiap lokasi studi (kecuali Kabupaten Sumbawa) mengetahui bahwa MOP untuk seumur hidup.

Terlepas dari pengetahuan KB yang masih rendah, 80-90% perempuan menikah dalam studi ini pernah menggunakan alat kontrasepsi. Metode kontrasepsi yang paling banyak digunakan adalah suntik, diikuti pil dan IUD. Metode Kontrasepsi Jangka Pendek (non-MKJP) ditemukan lebih banyak digunakan dibanding Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP).  Penggunaan MKJP bervariasi di setiap kabupaten, mulai dari 10% di Kediri hingga 20% in Sumbawa. IUD merupakan MKJP yang paling populer di Kabupaten Lumajang, Tuban, Kediri, dan Sumbawa, sedangkan, Lombok Barat dan Lombok Timur lebih menyukai implan. Rata-rata usia pengguna MKJP lebih tua dibanding penggunan non-MKJP.

Studi ini juga menemukan bahwa angka unmet need ditemukan bervariasi di setiap kabupaten, dengan Lombok Barat yang terendah (8%) dan Kediri yang tertinggi (14%).

Mayoritas ibu membuat keputusan bersama-sama dengan suami terkait kesehatan ibu dan anak. Namun di Kabupaten Kediri dan Tuban, proporsi ibu yang membuat keputusan ber-KB sendiri lebih tinggi dibanding mereka yang membuat keputusan bersama-sama dengan suami. Dalam membuat keputusan, ibu menerima informasi KB dari petugas kesehatan, tetangga dan teman. Penelitian ini menemukan kader di Provinsi Nusa Tenggara Barat lebih aktif dalam menyebarkan informasi KB dibanding kader di Provinsi Jawa Timur.

Secara umum, masih diperlukan upaya untuk meningkatkan penggunaan MKJP di seluruh kabupaten tempat studi ini dilakukan. Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai KB, kunjungan rumah terkait kesehatan ibu dan anak merupakan peluang yang potensial bagi petugas kesehatan untuk melakukan edukasi bagi pasangan usia subur tentang manfaat dan pentingnya MKJP, khususnya mereka yang telah memiliki 2 anak atau lebih. Selain itu, diperlukan program yang dapat mengubah persepsi masyarakat terkait MKJP. Salah satu rekomendasi yang diberikan adalah dengan membentuk kelompok pasangan pengguna MKJP yang didorong untuk secara aktif membagikan pengalaman dan pengetahuan mereka tentang manfaat menggunakan MKJP kepada pasangan usia subur lainnya

 

About Admin CHR UI

Check Also

Pengetahuan Ibu Hamil terkait Pemberian Tablet Tambah Darah di Kabupaten Lebak dan Kabupaten Purwakarta, Indonesia

Tingginya Angka Kematian Ibu masih menjadi tantangan di Indonesia. Salah satu penyebab kematian ibu yang …