Wednesday , 18 October 2017
Home » Activities » Survei Nasional Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba pada Sektor Transportasi di 23 Provinsi di Indonesia Tahun 2013

Survei Nasional Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba pada Sektor Transportasi di 23 Provinsi di Indonesia Tahun 2013

Transportasi merupakan hal yang yang tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Salah satu pilihan transportasi adalah transportasi publik atau transportasi umum. Transportasi umum banyak digunakan karena masal, murah dan semestinya lebih aman. Namun demikian, kecelakaan pada transportasi umum kerap terjadi. Di Indonesia sepanjang tahun 2006 menurut Kementerian Perhubungan terjadi 79 kasus kecelakaan kereta api, 46 kasus kecelakaan pesawat, dan 81 kasus kecelakaan angkutan laut (Widakdo, 2007). Pada tahun 2009 terdapat 15.392 kecelakaan lalu lintas (meningkat rata-rata sebesar 20% pada tahun 2002 sampai 2008). Analisis menunjukkan dari sekian banyak kecelakaan lalu lintas tersebut, 85% terjadi adalah karena kesalahan pengemudi (Ditlantas Polri, 2009).

Banyaknya faktor kesalahan manusia dalam berbagai kecelakaan lalulintas memunculkan praduga adanya faktor risiko lain dibalik kesalahan manusia tersebut. Beberapa kejadian seperti tertangkapnya pilot yang mengkonsumsi narkoba, dan terjadinya kecelakan fatal di jalan raya karena pengemudi dalam pengaruh narkoba, menguatkan adanya risiko penyalahgunaan narkoba dalam penggunaan alat transportasi, baik publik maupun pribadi. Sebagai Badan yang berkepentingan dalam pencegahan peredaran dan penyalahgunaan narkoba, Badan Narkotika Nasional (BNN) memandang sangat penting mengetahui sejauh mana tingkat penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba pada sektor transportasi sehingga hasilnya dapat menjadi masukan dalam penyusunan kebijakan pemerintah yang efektif dan tepat sasaran.

Studi ini menggunakan pendekatan potong lintang (cross-sectional), dengan sasaran para pekerja moda transportasi. Pengambilan data lapangan dilakukan dengan metode kuantitatif dan kualitatif di 23 provinsi tahun 2013. Terdapat 10.282 responden yang terlibat dalam studi ini.

 Angka prevalensi penyalahgunaan narkoba seumur hidup menunjukkan angka yang relatif tinggi yaitu 18,9%, atau dengan kata lain 1 dari 5 pekerja moda transportasi pernah mengkonsumsi narkoba paling sedikit sekali sepanjang hidupnya. Menurut status perkawinan, angka penyalahguna lebih tinggi pada kelompok responden yang bercerai (27,5%), dibandingkan yang belum menikah (22%) ataupun yang menikah (18%). Sedangkan menurut status kepegawaian, angka penyalahguna lebih tinggi pada responden yang berstatus pegawai tidak tetap (20%) dibanding responden yang berstatus pegawai tetap (17%).

Narkoba yang pertama kali digunakan oleh responden pekerja transportasi jenisnya cukup bervariasi, mulai dari ganja, ekstasi, nipam, dan shabu. Prevalensi pertama kali menggunakan narkoba jenis cannabis (ganja) dilaporkan paling tinggi (11,9%), diikuti oleh ekstasi (1.3%), shabu dan sejenisnya (0,9%), pil koplo dan sejenisnya (0,5%), nipam (0,3%) serta dextro (0,8%). Sebagian besar responden (95%) menyalahgunakan narkoba pertama kali pada usia <30 tahun, dimana separuhnya menyalahgunakannya pada usia yang sangat muda yaitu <20 tahun.

 Pengalaman responden menyalahgunakan narkoba pertama kali lebih banyak dilakukan sebelum mereka memasuki dunia kerja (11%). Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding responden yang baru pertama kali menyalahgunakan narkoba setelah memasuki dunia kerja (6%). Dari hasil studi kualitatif menunjukkan bahwa lingkungan kerja menjadi salah satu faktor risiko seorang pekerja menyalahgunakan narkoba, antara lain karena terpengaruh teman kerja ataupun dengan alasan untuk menghilangkan kejenuhan karena pekerjaan.

Keterpaparan pekerja moda transportasi terhadap informasi terkait Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) dari tempat kerja masih sangat kurang. Dari hasil survei terlihat hanya 47,8% responden yang mengaku pernah mendengar atau mengetahui informasi P4GN di tempat kerja, selebihnya mereka mengaku belum pernah mengetahuinya.

About Admin CHR UI

Check Also

Dampak HIV terhadap Keluarga di Indonesia tahun 2007

Kasus HIV terus berkembang dan sudah menyebar hampir di seluruh provinsi di Indonesia. Penyebaran HIV …