Monday , 21 August 2017
Home » Activities » Pendekatan Konseling yang Mendorong Laki-Laki Positif HIV Membuka Status kepada Pasangannya

Pendekatan Konseling yang Mendorong Laki-Laki Positif HIV Membuka Status kepada Pasangannya

Epidemi HIV di Indonesia sudah mulai memasuki kelompok perempuan dan anak. Laporan triwulan kasus HIV/AIDS memperlihatkan adanya kenaikan kasus HIV pada perempuan. Kebanyakan perempuan terinfeksi karena tertular dari pasangannya dalam hubungan pernikahan. Sementara itu, sebagian laki-laki berstatus HIV+ kesulitan membuka status. Namun, beberapa studi mengungkapkan membuka status pada awalnya memang sulit, namun selanjutnya justru membuat keadaan lebih baik. Selain bermanfaat besar bagi pasangan, bagi klien sendiri bermanfaat dalam menurunkan deprasi,menguatkan hubungan, dan mendapatkan dukungan sosial. Beberapa studi menyebutkan konselor dan proses konseling yang memadai menentukan seorang klien mengambil keputusan untuk membuka status kepada pasangannya.

PPK UI bekerja sama dengan Komisi Penanggulan AIDS Nasional (KPAN) dan HIV/AIDS Cooperation Program for Indonesia (HCPI) melakukan studi terkait pendekatan konseling yang mendorong laki-laki positif HI membuka status kepada pasangannya. Studi ini mengevaluasi sejauhmana pendekatan Kimberly (1995) dan William Glasser (1980) dapat mendorong laki-laki positif HIV untuk membuka status HIV kepada pasangannya. Kimberly (1995) dalam “Disclosure of HIV-Positive Status: Five Women’s Stories” merangkum enam tahap pengambilan keputusan yang bertanggung jawab terhadap diri dan orang lain, termasuk cara untuk melakukan antisipasi dalam membuka status HIV kepada pasangan. Sedangkan William Glasser (1981) menyampaikan empat tahap reality therapy yang mendorong konselor mengubah kesenjangan, cita-cita atau keinginan menjadi suatu perilaku nyata yang disukai. Kedua pendekatan ini dikombinasikan dari segi pendekatan dan konten konseling.

Studi menggunakan pseudo-eksperimen dengan membandingkan dua jenis konseling. Kelompok intervensi menggunakan pendekatan Kimberly (1995) dan William Glasser (1980). Kelompok pembanding menggunakan materi konseling Kemkes yang disusun dalam daftar tilik. Konseling terdiri dari delapan kali untuk menuntun klien menilai kemampuan diri dan menambah kepercayaan diri membuka status pada pasangan. Sampel mencakup 31 subyek (16 orang dalam kelompok intervensi dan 15 orang dalam kelompok pembanding) laki-laki +HIV, mempunyai pasangan (istri atau pacar), dan belum membuka status pada pasangan.Studi dilakukan di Puskesmas Kedung Badak Bogor September 2013-Maret 2014. Focus Group Discussion (FGD) terhadap subyek dan wawancara mendalam dengan konselor dilakukan setelah seluruh konseling selesai dilakukan.

Terjadi peningkatan persentase buka status kepada pasangan, pengetahuan, dan sikap positif pada kelompok intervensi dan pembanding. Peningkatan persentase subyek buka status pada pasangan ditemukan lebih banyak pada kelompok intervensi (13 dari 16 subyek atau 81%), walaupun tidak ada perbedaan signifikan antara kedua kelompok. Terdapat peningkatan yang signifikan pada kelompok intervensi untuk pengetahuan HIV (p=0,009) dan sikap positif dalam menghadapi stigma (p=0,02).

Terdapat peningkatan lebih besar tentang pengetahuan manfaat buka status, kegiatan pelayanan Voluntary Counseling and Testing (VCT), dan siapa yang dapat menggunakan VCT pada kelompok intervensi dibandingkan kelompok pembanding, walaupun perbedaannya tidak signifikan. Hasil FGD memperlihatkan kedua kelompok merasa frekuensi konseling lebih intensif dibandingkan konseling yang pernah diperoleh sebelumnya. Wawancara dengan konselor memperlihatkan bahwa pendekatan Kimberly-William Glasser dirasakan cukup efektif bagi konselor pemula dan konseling yang membutuhkan agar klien buka status pada pasangan dalam waktu cepat.

 

Penelitian ini menghasilkan beberapa kesimpulan, diantaranya:

  1. Penambahan jumlah konseling mendorong subyek menjadi lebih percaya diri dalam membuka status.
  2. Pendekatan WDEP-Kimberly membantu subyek lebih baik dalam membuka status pada pasangan. Hal ini terlihat dari temuan studi yang menunjukkan lebih banyaknya jumlah subyek yang buka status pada kelompok intervensi, seluruh subyek yang belum buka status pada kelompok intervensi mempunyai niat membuka status, serta konselor berpendapat bahwa pendekatan WDEP membuat konseling buka status lebih singkat dan efektif.
  3. Buka status memperbaiki kualitas kesehatan dan hubungan pasangan. Hal ini terlihat dari temuan studi yang menunjukkan adanya perasaan dan dukungan positif pada subyek yang sudah membuka status pada pasangan, seperti tidak ada beban dan perhatian dari pasangan.
  4. Penggunaan daftar tilik pada kelompok pembanding membantu konselor menjadi lebih fokus dalam melakukan konseling. Hal ini terlihat dari temuan studi yang menunjukkan adanya kenaikan buka status pada kelompok pembanding yang menggunakan daftar tilik.

About Admin CHR UI

Check Also

Pengetahuan Ibu Hamil terkait Pemberian Tablet Tambah Darah di Kabupaten Lebak dan Kabupaten Purwakarta, Indonesia

Tingginya Angka Kematian Ibu masih menjadi tantangan di Indonesia. Salah satu penyebab kematian ibu yang …